Senin, 19 November 2012

Taman Surga


Taman Surga

Sayang, apa yang engkau takutkan? Bukankah aku telah berjanji tidak akan poligami! Apakah itu tidak cukup bagimu?
Sayang, bukankah aku telah katakan padamu bahwa aku memilihmu bukan karena aku diterima atau ditolak oleh sang puteri, sama sekali bukan. Posisimu absolut di dalam hatiku, bukan sebuah perasaan hasil reinkarnasi masa lalu atau sebuah rasa yang tercipta oleh kenangan masa lalu. Sungguh sayang, aku tidak mencintaimu karena aku pernah mencintai seseorang yang mirip denganmu! Tidak juga aku membandingkanmu dengan sesuatu yang lain! Bukan karena kamu mirip chinese atau memiliki wajah yang polos, bukan itu sayang. Posisimu mutlak seperti saat aku mencintai cinta pertamaku.
Sayang, aku harap kamu mengerti. Kelak…

Sayang, tidak pernah aku memintamu menjadikanku sebagai pacarmu. Sumpah aku tidak pernah. Aku hanya memintamu untuk menjadi istriku. Sungguh sayang, statusmu yang bidadari menjadi nilai tambah bagimu, walau kamu terlalu sering angkuh. Aku amat sangat mengerti sayang.
Sayang, tentang syaratmu itu harus aku katakan bahwa AKU BUKAN ROBOT!
Tuhan menciptakan rasa cinta dihatiku, maka dia juga menghiasinya dengan api cemburu. Tuhan menciptakan apa yang disebut emosi dan dia menganugerahi dengan setitik kemarahan. Sungguh sayang, aku bukan robot yang diciptakan Tuhan. Aku adalah makhluknya yang memiliki segala kelemahan. Dia menghiasi diriku dengan nafsu-nafsu maka tolong jangan jadikan aku malaikat.
Sayang, kapan engkau akan mengerti aku?
Memang aku pernah mencintai 2 wanita sebelumnya, namun bukankah engkau mengetahui rahasia hatiku itu yang membuatmu awal ragu akan kesungguhanku. Hanya dirimu satu-satunya wanita yang mampu menundukkan urat maluku untuk tidak berkata cinta, hanya kepadamu wanita satu-satunya yang baru aku ucapkan kata cinta. Hanya padamu.
Sungguh sayang, saat itu aku amat sangat malu. Namun kehilangan dirimu akan terasa amat menyakitkan, lebih menyakitkan daripada kehilangan 2 wanita sebelum dirimu itu. Sayang, aku tidak ingin menjadi Lelaki Sepenggal Harap lagi, tidak akan.
Sayang, berjanjilah engkau akan menungguku seperti aku akan menunggumu. Tolong kuatkan diriku dalam hatimu karena aku tahu ada banyak kumbang lain yang berusaha merebut perhatianmu, terlalu banyak. Sayang, maaf jika aku menjadi terlalu pencemburu.
Sayang, mengapa lantas sekarang dirimu membuatku harus terpukul?
Bukankah sudah ku katakan betapa aku mencintaimu. Mengapa lantas kau mencemburui masa laluku? Bukankah dirimu juga memiliki masa lalu, yang membuatku cemburu terhadap itu. Sayang, itu alasan mengapa aku tidak ingin membicarakan masa laluku, aku takut kamu menjadi seperti yang sekarang ini terjadi.
Sayang, harus apa yang kulakukan agar kamu percaya bahwa sekarang posisimu menjadi benar-benar absolut di hatiku.
Tanyakan kepada mirza, tanyakan kepada fifi, tanyakan kepada kak idar, sapa yang paling sering kuucapkan namanya. Tanyakan kepada kakak-kakakku… dan ibuku sayang, bahwa aku telah bertanya-tanya kemungkinan akan menikahimu.
Sayang, mengapa lantas dirimu berpikir seperti itu?
Sungguh, aku ingin sekali meminangmu. Bagiku engkau adalah bidadari. Namun setelah janji itu engkau ucapkan mengapa kini engkau mencabut kembali. Sungguh sayang, sakit hatiku ini teramatlah sakit. Sungguh sayang, amat perih ia terasa di dalam hati.
Sayang, memang cinta mampu membuyarkan segalanya. Saat aku mencintai MRN aku juga merasa bahwa dia adalah wanita terindah dalam hidup ini lantas aku bertemu dengan sang puteri yang bagiku seperti MRN. Kemudian aku pun mencintainya hingga lalu aku bertemu denganmu. Awalnya hanya sebatas suka, namun aku pun mulai mencintaimu. Bukan karena engkau bagian dari serpihan masa lalu, posisimu absolut dihatiku.
Sayang, aku tak akan memaksa lagi dirimu untuk mencintaiku.
Tiga kali aku jatuh cinta, dan kamu yang terakhir itu. Terima kasih untuk segalanya selama ini. Namun yakinlah, aku mencintaimu hingga batas waktu yang tak mampu aku hitung. Mungkin hingga aku menemukan bidadari berikutnya.
Taman Surga… konsekuensi cinta adalah rasa pahit getir yang harus engkau rasakan.

Sayang, maafkan masa laluku. AKU CINTA KAMU. Terima kasih.

Tuhan, Aku Lelah


Tuhan, Aku Lelah


Tuhan, Aku lelahTerkadang aku menjadi begitu lelah, terutama dalam menata hati. Ada banyak bagian yang begitu susah kumengerti, ntah bagaimana Tuhan menjadikannya hingga begitu rumit untuk kupahami.
Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu, atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu dua puluh tahun belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia.
Lelah, aku begitu lelah. Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit. Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini. Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang. Aku capek!
Tuhan, aku lelah. Aku merasa Engkau mengerti, namun mengapa terus menunda mencabut akar jiwa ini? Tugas apalagi yang belum tuntas?
Aku bukan nabi-Mu, aku juga bukan rasul-Mu, dan aku bukan pula iblis-Mu yang kau tugaskan menggoda manusia. Tak ada tugasku untuk menggiring manusia kepada kehendak-Mu, dan engkau juga tak pula menjadikan aku iblis agar menyesatkan manusia. Jika memang demikian, mengapa terlalu lama engkau memberi aku tempat di dunia?
Apa statusku? Tuhan, sungguh aku kelelahan.
Engkau tahu kan, kadang sikapku seperti malaikat. Namun tak jarang aku menunjukkan wajah iblis dan setan-setan yang Kau kutuk itu. Aku berikan efek dualisme kepada manusia agar mereka mengerti, apapun wajahku adalah tetap aku. Agar mereka mengerti bahwa pemilik segala kegelapan dan cahaya terang benderang adalah Engkau. Agar mereka mengerti, butuh cahaya untuk berjalan dalam jalan gelap menuju-Mu.
Tuhan, aku merasa Engkau terlalu banyak diam terutama terhadapku. Marahkah Engkau? Tidak inginkah Engkau menjadikan aku seperti dahulu, kita saling tertawa saling curhat-curhatan.
Aku curhat tentang masalahku dan Engkau tentang tugas-Mu. Kau selalu membimbingku selaku layaknya guru, hingga hidup pun terdiam tak memiliki ruang untuk cemburu. Aku menyebut nama-Mu seribu kali dan Engkau pun bernyanyi dengan namaku sejuta kali. Sungguh indah, namun itu dulu.
Aku tak mengerti, sejak kapan Engkau mulai diam terhadapku.
Tuhan, sumpah aku teramat lelah.
Berbicaralah, jangan terus diam. Berikan aku petunjuk atau hatiku telah terlalu hitam hingga suara-Mu yang keras mengguntur sama sekali tak kudengarkan?! Atau sudah terlalu tulikah aku?
Tak Engkau gubris air mataku yang terus mengucur dimalam-malamku? Namun terhadap manusia aku tetap tertawa, tersenyum seolah tak ada yang terluka. Padahal sejatinya aku sedang sekarat dan jiwaku yang kehausan amat begitu letih. Menunggu mati.
Tuhan, Engkau tahu apa yang paling kutakutkan? Jika aku bertemu dengan-Mu tanpa perasaan cinta. Aku takut jika aku bertemu dengan-Mu kelak yang ada hanyalah perasaan takut. Sungguh jangan seperti itu. Berikan aku rasa cinta kepada-Mu lebih luas dari dunia dan segala isinya. Agar tak letih aku menunggu kapan Engkau cabut akar jiwa ini.
Tuhan, aku ingin mencium-Mu untuk yang kesekian kali. Sungguh rindu ini memuncak, memberi rasa letih dan harapan cemas, kapan kita akan saling bercinta.
Tuhan, aku menunggu… dalam letih.
Tuhan, jangan terlalu lama. Sungguh aku teramat lelah.

Jumat, 02 November 2012

CINTA itu


Kalo CINTA itu sebenarnya INDAH, tergantung gimana  cara elo ngeliatnya. Meski elo dibikin nangis olehnya, tapi suatu saat nanti elo akan sadar. Walau SAKIT, tapi semua  itu akan jadi indah pada waktunya. Be the best for yourself, not another :)